Senin, 01 Oktober 2012

Kisah Ibu Kost [1]


Kota ini sedang panas-panasnya. Matahari rasanya seperti berada sejengkal di atas kepala. Yanti berusaha mengipasi tubuhnya dengan selembar koran tipis. Dia duduk di depan tv dengan daster tanpa lengan. Jendela sudah terbuka, tapi tetap saja udara siang itu terasa panas.

Yanti bergerak menenggak minuman dingin yang sebenarnya tidak terlalu dingin lagi. Kerongkongannya terasa sejuk. Tapi cuma sebentar, karena kemudian udara panas kembali menyergapnya.


“ pfiuhhh..panasnyaaa” Yanti mengeluh.

Dia masih asyik menonton tivi sambil mengipasi tubuhnya ketika didengarnya pintu pagar terbuka. Menyusul kemudian sebuah suara motor mendekat ke arah samping rumah. Yanti melirik dari jendela yang terbuka, Adi salah seorang anak kostnya sedang memarkir motor. Tak lama kemudian langkahnya terdengar di samping rumah menuju ke bagian belakang.

Yanti memang menyewakan 5 kamar di bagian belakang rumahnya untuk anak-anak mahasiswa. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sebuah kampus swasta, usaha yang sangat cocok dan menghasilkan.

Kamar kost itu sudah ada sejak 6 tahun yang lalu. Tepatnya ketika Ruslan suaminya masih hidup dan baru saja pensiun. Alasannya untuk menambah penghasilan rumah tangga. Yanti dan suaminya sengaja membuka kost untuk lelaki, alasannya waktu itu biar pak Ruslan ada teman ngobrol. Sayang, lelaki itu kemudian meninggal 3 tahun kemudian. Tinggallah Yanti bersama 2 orang anaknya yang beranjak remaja.

Setahun kemudian Anshar anak pertamanya pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliahnya. Disusul kemudian Rini, adiknya. Tinggallah Yanti sendirian bersama anak-anak kost yang datang silih berganti mengisi kostan di belakang rumahnya. Hanya Ria, ibu setengah baya yang datang setiap pagi untuk membersihkan rumah dan membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Yanti sebenarnya belum bisa dibilang tua. Tahun ini umurnya masuk 43, perawakannya tidak terlalu tinggi dan tidak pendek. Rata-rata ukuran wanita Indonesia. Tubuhnya masih bisa dibilang kencang meski selulit dan lemak juga sudah hadir di beberapa tempat. Usia tidak bisa bohong, tapi Yanti selalu berusaha mencegahnya, termasuk dengan berolahraga. Minimal menjaga kesehatan, katanya.

Sekitar 6 bulan lalu dia terjebak dalam sebuah hubungan terlarang dengan salah seorang anak kostnya. Namanya Fandi, lelaki muda yang baru saja merintis karir di sebuah perusahaan swasta di kotanya. Yanti terpikat pada ketampanan dan kesopanan lelaki itu. Yanti yang sudah lama kesepian sejak ditinggal suami dan anak-anaknya tanpa sadar jatuh di pelukan Fandi yang masih muda dan energik.

Waktu itu gairahnya yang lama terpendam muncul ke permukaan, dia menjadi liar dan semangat hidupnya juga kembali menyala. Yanti terjebak dalam hubungan cinta terlarang dengan Fandi. Hubungan yang bahkan berlanjur ke tempat tidur. Fandi tahu betul bagaimana memuaskan hasrat birahi Yanti yang sudah lama tak tersentuh.

Sayang, Fandi sekarang tinggal cerita. Dia harus pindah setelah dipaksa menikah oleh orang tua pacarnya. Sang pacar hamil 3 bulan hasil benih Fandi. Setelah menikah dia terpaksa pindah ke rumah orang tua sang pacar. Tinggallah Yanti yang terluka oleh kenikmatan sesaat yang ditawarkan oleh Fandi.

Selepas kepergian Fandi, Yanti memilih mengurung diri. Dia berubah menjadi ibu kost yang pendiam meski tidak galak. Satu persatu penghuni kostnya berganti, semuanya lelaki muda. Meski begitu Yanti sama sekali belum kepikiran untuk mengulang kisah yang sama dengan Fandi dulu. Luka itu masih ada, dulu Yanti sudah terlanjur menyimpan perasaan pada Fandi meski dia tahu mereka sulit untuk bersatu.

Yanti menenggak air terakhir dari minuman dinginnya. Minuman yang tadinya mampu menyejukkan tenggorokannya itu ternyata sudah jadi hangat. Yanti berdiri ke arah dapur berniat mengambil minuman dingin yang lain dari kulkas. Udara panas siang itu membuatnya susah untuk menolak godaan minuman dingin.

Di dapur sayup-sayup Yanti mendengar suara air dari belakang. Tepatnya dari tempat cuci yang letaknya memang ada di belakang dapur. Yanti mencoba mengintip dari jendela dapur. Ternyata ada Adi di sana yang sedang mencuci pakaian. Lelaki muda itu tak berbaju, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka. Dia hanya memakai celana pendek berwarna terang yang sebagian basah terkena air.

Tiba-tiba darah Yanti berdesir. Tubuh Adi tergolong atletis, padat berisi. Tetes air membasahi tubuhnya sehingga membuatnya terlihat mengkilap. Yanti menajamkan pandangannya ke arah selangkangan lelaki muda itu. Tiba-tiba Yanti tercekat. Rupanya Adi tidak memakai celana dalam. Adi yang duduk di atas bangku kecil tidak terlalu awas, dia duduk seenaknya sehingga dari pahanya terlihat jelas kalau dia tidak memakai celana dalam.

Yanti menelan ludah, degup jantungnya makin keras. Dengan sedikit takut-takut dia memperbaiki posisi mengintipnya. Sekarang dia dengan jelas bisa melihat sedikit celah dari pinggir celana Adi. Kepala kontolnya mengintip, terlihat mengkilap. Yanti tiba-tiba merasa sesak, sesak oleh nafasnya sendiri yang tidak beraturan.

Bayangan-bayangan hubungan gelapnya dengan Fandi seperti film yang terputar dengan sangat jelas di otaknya. Satu persatu adegan-adegan itu terpampang dengan jelas, membuat gairahnya perlahan memuncak. Tubuh atletis Adi dan kontolnya yang mengintip dari celana pendeknya seperti sebuah kunci untuk membuka kotak pandora. Nafas Yanti memburu, nafsunya menggelegak di dalam dada dan meluncur cepat ke kepala.

Kotak pandora telah terbuka. Yanti menarik nafas panjang, dia sudah tidak bisa mengontrol dirinya. Hampir setahun tidak disentuh pria setelah kisahnya dengan Fandi berakhir membuat seluruh tubuhnya seperti bersatu menuntut pelampiasan. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi, dia menurut pada nafsunya. Menuruti panggilan birahinya yang sudah menguasai seluruh tubuhnya. Dia harus mendapatkan pelampiasan dari Adi yang sampai detik itu belum tahu kalau kesembronoannya sudah membuat seorang wanita menggelinjang karena nafsu.

Keputusan Yanti sudah bulat. Dia membatalkan niatnya mengambil minuman dingin. Dia keluar dari dapur dan menuju tempat cuci di bagian belakang mendekati Adi. Yanti masih sempat menimbang situasi. Jam baru menunjukkan pukul 12:20, masih siang. Anak-anak kost biasanya datang menjelang sore. Ria sudah pulang sedari tadi. Masih ada waktu beberapa jam sebelum kost kembali ramai.

“ eh Adi, kamu sudah pulang?” Sapa Yanti ketika sudah berada beberapa meter di belakang Adi. Dengan susah payah dia meredam degup jantungnya sendiri.

“ eh, ibu..iya nih, kuliah lagi kosong. Adi malas di kampus. Gerah..makanya pulang aja, sekalian mau nyuci” jawab Adi. Senyum tersungging di bibirnya. Yanti baru sadar kalau anak muda ini lumayan tampan.

“ sinih ibu bantuin” Kata Yanti sambil mencoba berjongkok di depan Adi, tepat di seberang ember berisi cucian.

“ ah gak usah bu, Adi sudah biasa” Adi menolak dengan halus. Dia belum memperbaiki cara duduknya dan belum sadar kalau dari celah celananya sang kontol mengintip. Pandangan Yanti tertuju ke sana.

Yanti tersenyum, berusaha menampilkan senyum termanisnya. Dia tahu Adi pasti kikuk, tidak biasanya sang ibu kost yang pendiam itu tiba-tiba jadi akrab dan mau membantu mencuci.

Yantilah yang memegang kendali. Masih dengan berjongkok dia mencoba mencairkan suasana meski jantungnya juga masih berdegup kencang. Sesekali dia masih melirik ke celah celana Adi sambil terus mengagumi tubuh atletisnya.

“ Kamu pasti sering olahraga ya, badan kamu bagus” Yanti mulai menyerang. Tangannya mengelus lengan Adi yang memang lumayan berotot.

Adi sedikit kikuk, tapi dia tidak menolak. Dengan agak terbata dan menunduk dia menjawab, “ biasa aja bu, dulu sering ikut main bola soalnya.”

Yanti terus memuji Adi, tangannya mengelus-elus lengan Adi. Lelaki muda itu makin tampak salah tingkah. Tangannya mengucek pakaian dengan gerakan yang menunjukkan kalau pikirannya sudah tidak di situ.

Adi lelaki normal, sentuhan Yanti di lengan dan kemudian di punggungnnya membuat darah mudanya berdesir tanpa bisa dia kontrol. Darahnya seperti mengalir dengan cepat menuju satu titik di selangkangannya. Perlahan kontolnya berdiri, membuat celana pendek longgarnya jadi menonjol. Yes! Dalam hati Yanti menjerit senang. Dia tahu sebentar lagi dia akan berhasil mencicipi anak muda ini.

“ Aihh, itu koq jadi bangun?” Goda Yanti sambil menunjuk ke selangkangan Adi.

Adi makin salah tingkah, susah payah dia menutup selangkangannya dengan tangan dan merapatkan kedua kakinya yang tertekuk. Yanti tersenyum nakal.

Mengetahui rencananya makin mulus, dia mendekatkan bibirnya ke kuping Adi. Sebuah ciuman hangat mendarat di kuping Adi, dilanjutkan dengan jilatan lembut. Adi tersentak kaget, tapi sama sekali tidak menolak. Darah mudanya berdesir, nafsunya ikut bangkit.

“ kamu mau bercinta sama ibu?” Tanya Yanti dengan tatapan nakal. Adi hanya diam, bukan karena tidak mau, tapi karena bingung dengan perubahan suasana yang mendadak itu. Dia tidak pernah membayangkan akan digoda seperti itu oleh ibu kost yang pendiam. Adi juga bukan anak muda yang kuper, tapi setidaknya dia adalah anak muda yang sopan.

Adi masih diam ketika Yanti berlutut dan medekatkan wajahnya ke wajah Adi. Sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Naluri lelakinya bergejolak, dengan tidak sabar Adi membalas ciuman Yanti. Bibir mereka berpagut, lidah mereka saling membelit. Suara cipokan segera terdengar. Yanti begitu menikmati ciuman hangat membara itu. Birahinya makin meraja, membuatnya lupa kalau lelaki di depannya itu adalah anak kost yang usianya sama dengan anaknya sendiri. Yanti sudah tidak peduli, dia hanya ingin mereguk kenikmatan yang sudah lama tidak pernah dia reguk.

Yanti membimbing tangan Adi ke dadanya, meremas toketnya yang masih terbungkus daster dan BH. Adi awalnya ragu, tapi dia masih laki-laki normal yang segera tahu apa yang harus dilakukan. Agak lama mereka berciuman dengan posisi Adi duduk di bangku kecil dan Yanti berlutut. Tangan Adi makin lama makin liar, meremas toket Yanti yang masih terbungkus serta sesekali membelai pangkal kupingnya.

“ Hmmppffhhhh…hmpffhhh..” hanya suara itu yang keluar dari mulut mereka.

Yanti tiba-tiba menghentikan ciumannya. Dia berdiri dan menarik Adi untuk ikut berdiri. 
“ Kita pindah ke kamar yuk..”, ajaknya kemudian.

Adi tidak menolak tentu saja, dia pasrah saja ketika Yanti menariknya masuk ke rumah utama melewati dapur dan ruang makan. Mereka berakhir di kamar tidur Yanti, menutup pintu dan menyalakan AC. Udara dingin dengan cepat menyergap mereka, meski kedua insan itu tidak lagi merasakannya.

Adi mulai dirasuki birahi yang bergejolak. Dia tidak lagi pasrah dan dituntun, dia malah dengan cepat menyergap Yanti, menariknya ke dalam pelukannya dan mencumbu Yanti dengan penuh semangat. Yanti pasrah, dia tahu sekarang giliran Adi yang mengambil alih kendali.

Mereka berciuman cukup lama dalam posisi berdiri sebelum kemudian Adi merebahkan tubuh Yanti ke atas ranjang yang besar. Yanti menurut saja meski mulutnya terus mengeluarkan suara desahan. Yantipun diam saja ketika dengan sedikit tergesa Adi melepas dasternya. Tinggallah dia dengan tubuhnya yang hanya berbalut BH dan celana dalam. Tapi itu tidak lama, karena Adi juga melepas BH-nya dan membuangnya ke samping ranjang.

Kini dadanya terpampang jelas di depan lelaki muda itu. 34C, lumayan membuat darah Adi berdesir meski memang tak lagi sekenyal dulu. Adi meremas lembut dua bukit di dada Yanti, mempermainkan putingnya dengan telunjuk dan jempol. Yanti mendesis, tubuhnya mengejang. Adi makin bernafsu, dibenamkannya kepalanya di atas toket Yanti yang mulus. Bibirnya menyapu puting Yanti yang kemerah-merahan, mengisapnya seperti bayi yang kehausan serta mempermainkannya dengan lidah.

“ Accchhh….sayanggg…acchhh” Yanti meracau tidak jelas, dia bahkan tanpa sadar sudah memanggil sayang pada anak kostnya itu. Adi makin bersemangat.

Puas bermain di dada Yanti, Adi beringsut turun ke selangkangannya. Tak lupa dia melepas celana dalam Yanti. Sang pemilik celana dalam tidak protes, bahkan membantu Adi melepas celana dalam itu. Vaginanya sekarang terlihat jelas, bulu-bulu halus tumbuh di sekitar vagina itu. Yanti memang rajin mencukur bulu-bulu vaginanya, kebiasaan yang sudah dia jaga dari sejak jaman muda dulu.

“ Adi jilat ya bu?” Pertanyaan konyol dari Adi, entah karena basa-basi atau karena memang aslinya dia sangat sopan. Tapi Yanti tidak berpikir apa-apa, dia cuma mengangguk pelan dengan wajah merah padam menahan nafsu.

Dengan lembut Adi menjatuhkan ciuman pada vagina Yanti. Menjilatinya dengan penuh perasaan dan menyusupkan jari tengah kirinya ke dalam lubang kenikmatan itu. Yanti nyaris berteriak, tubuhnya menegang, vaginanya makin basah. Pantatnya terangkat, menekan wajah Adi semakin lekat dengan vaginanya.

Adi ternyata bukan anak kemarin sore, caranya menjilat vagina, mengkombinasikan dengan gigitan halus dan permainan jari membuat Yanti melayang. Rasa nikmat adalah satu-satunya rasa yang dia tahu. Dia mendesah, menggelinjang dan berteriak tertahan. Hingga kemudian…

“ Accchhh…Adi sayangggghhh…” Tubuhnya tersentak, dia mencapai orgasmenya. Yanti seperti melayang selama beberapa detik. Dia tidak sadar Adi tersenyum di bawah sana, tepat di depan vaginanya. Yanti masih menutup mata mencoba meresapi sisa orgasmenya. Adi turun dari ranjang dan melepas celana pendeknya.

Yanti tidak sadar kalau Adi sudah telanjang bulat, dia tersentak sedikit kaget ketika mulutnya tersentuh sesuatu. Ketika matanya terbuka, tampaklah kontol Adi berada tepat di depan mulutnya. Yanti sedikit kaget, kontol itu lumayan besar dan panjang. Yanti segera tahu kalau kontol Adi lebih besar dari kontol Fandi dan Ruslan, dua kontol yang pernah dinikmatinya.

Yanti tahu apa yang dimaui Adi. Dia mengatur posisi, meninggikan kepalanya dengan bantal dan mulai mengocok lembut kontol Adi. Adi mendesis, tangan lembut Yanti terasa begitu nikmat. Adi sedikit tersentak ketika Yanti menjatuhkan jilatan dan ciuman ke kepala kontolnya. Dia memejamkan mata, apalagi ketika dengan penuh perasaan Yanti memasukkan kontol itu ke dalam mulutnya. Dia memvariasikan isapan, jilatan dan ciuman ke kontol Adi, membuat lelaki muda itu makin tidak tahan didera nafsu.

Yanti melirik, ekspresi nikmat di wajah Adi membuatnya makin bernafsu untuk terus mengoral kontol di depannya itu. Semua kemampuannya dia kerahkan, dia mau Adi takluk 100% di kakinya. Perlahan-lahan nafsunya kembali membara. Vaginanya kembali basah.
Bemenit-menit terlewati, Yanti masih semangat mengoral Adi ketika dirasanya lelaki itu menarik kontolnya. Dia tahu, Adi sudah tidak sabar memasukkan kontol itu ke vaginanya. Dia juga sudah tidak sabar merasakan vaginanya diisi kontol yang menurutnya cukup besar itu.

Mereka mengatur posisi. Yanti mengangkang, kedua kakinya dilipat hingga ke dada. Vaginanya terlihat jelas seakan siap menyambut kontol Adi yang sudah tegang. Adi berhenti sejenak, dengan jarinya dia mengusap-usap vagina merah muda itu. Yanti mendesah.

“ Accch…sayang, jangan digituin. Ayo dimasukin aja, aku udah gak tahan nih”, Pinta Yanti dengan suara parau karena nafsu.

“ Iya sayang, aku masukin yaa”, Adi sudah bukan lagi Adi yang tadi. Hilang sudah panggilan ibunya, berganti dengan kata sayang.

Dengan pelan Adi menyorongkan kontolnya ke dekat vagina Yanti. Awalnya agak sulit, meski vagina Yanti sudah basah tapi tetap saja kontol Adi susah untuk masuk. Yanti menjerit tertahan ketika Adi sedikit memaksakan kontolnya. Adi segera menyergap mulut Yanti dengan mulutnya, mereka berciuman dengan ganas sambil pelan-pelan Adi kembali mendorong pantatnya.

Bles!!! Akhirnya kontol Adi terbenam sempurna ke dalam vagina Yanti. Mereka diam sejenak, meresapi rasa nikmat yang menjalari semua syaraf mereka. Adi mempermainkan lidahnya di lidah Yanti. Yanti membalasnya dengan penuh nafsu. Perlahan-lahan Adi mulai memompa kontolnya, dia benar-benar tahu bagaimana memperlakukan wanita rupanya. Tak heran Yanti tidak butuh waktu lama untuk kembali merasakan nikmat tak tertahankan. Dia mendesah, menggelinjang dan mencengkeram dengan keras punggung Adi.

Adi makin bersemangat memompa kontolnya, dia bertumpu pada kedua tangannya dengan dua kaki yang terlipat. Sesekali dia menjatuhkan ciuman dan isapan ke toket Yanti. Yanti makin menggila, pantatnya bergerak tidak karuan. Dia terbang makin tinggi, makin tinggi hingga akhirnya…

“ Accchhh…sayanggghh, aku keluarrr laghiiii…” Yanti mengejang, wajahnya tegang. Adi diam beberapa detik, membiarkan Yanti menikmati sisa orgasmenya.

Ketika Yanti sudah terlihat tenang, Adi kembali memompa kontolnya. Dia juga sudah dikuasai nafsu yang membara. Makin lama pompaan Adi makin kuat, Yanti yang mulai lemas hanya bisa mendesah. Adi terus memompa, terus dan terus. Keringat bercucuran dari tubuhnya meski ruangan sudah didinginkan dengan AC.

“ Arrrghhhh….sayaaangggghhhh….” Adi berteriak dan menggeram tertahan. Tubuhnya mengeras, tegang beberapa detik dan kemudian bergidik. Dia mencapai puncak. Di dalam vagina Yanti kontolnya menyemburkan cairan kental yang hangat.

Adi menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Yanti, membiarkan wanita itu memeluknya dengan mesra. Sungguh sebuah puncak kenikmatan yang luar biasa yang membuat Adi seperti melayang. Mereka berpelukan dalam keadaan bugil untuk beberapa saat. Kontol Adi masih ada di dalam vagina Yanti, pelan-pelan mengecil.

“ Ah sayang, kamu hebat…” Bisik yanti di kuping Adi. Adi mengangkat wajahnya, tersenyum dan kemudian mencium lembut bibir Yanti.

“ Ibu yang hebat, saya ndak nyangka”

“ Ah, kalau lagi bercinta jangan panggil ibu dong. “ Yanti protes yang segera disambut dengan tawa renyah dari Adi.

Mereka berpelukan lagi, kali ini kontol Adi sudah berada di luar vagina Yanti.

Itu hanyalah awal. Seperti sebuah kotak pandora. Percintaan di siang yang panas itu rupanya membuka pintu-pintu lain untuk percintaan yang lain pula. Yanti seperti seekor kuda binal yang baru saja dilepaskan di alam terbuka. Yanti menemukan mata air kehidupan pada semangat seorang lelaki muda seperti Adi.

Satu percintaan membuka pintu ke percintaan yang lain. Yanti tersenyum penuh arti dalam pelukan Adi.

[BB]

4 komentar: